Skip to main content

Bahasa Indonesia. Dulu, Kini, dan Nanti

Perjalanan bahasa Indonesia dimulai sejak zaman kolonial Belanda. Pada saat itu, Nusantara memilki sangat banyak bahasa yang berbeda. Akan tetapi bangsa Indonesia disatukan oleh sebuah bahasa pemersatu yaitu bahasa Melayu. Bahasa Melayu digunakan masyarakat untuk bertransaksi, berinteraksi dan bersosialisasi antar suku di Indonesia. Oleh karena itu disetiap daerah terdapat bahasa Melayu dengan dialek yang berbeda beda seperti bahasa Melayu dialek Betawi, bahasa Melayu dialek Larantuka, dan lain-lain. Bangsa Melayu sendiri bukanlah bangsa yang suka merantau. Hal ini membuat bahasa Melayu Riau terjaga keasliannya. Oleh karena itu bahasa Melayu Riau dikategorikan sebagai bahasa kelas atas yang digunakan oleh para bangsawan. Bahasa Melayu Riau inilah yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia baku. 

Karena Islam telah masuk lebih dulu ke Indonesia, maka aksara Melayu awalnya menggunakan aksara Arab gundul. Arab gundul merupakan aksara Arab yang tidak diberi baris dan harakat. hal ini terjadi karena bahasa Arab hanya memiliki tiga huruf vokal. Sementara bahasa Melayu memiliki lima huruf vokal. Disamping itu banyak juga consonant group yang tidak dapat diakomodir oleh bahasa aksara Arab yang menggunakan baris. Akhirnya aksara Arab gundul menjadi solusi untuk menuliskan bahasa Melayu dan Jawa pada masa pra-kolonialisme. 

Para tokoh Belanda menyukai bahasa melayu yang merupakan lingua franca dari daerah asia tenggara pada saat itu. Akan tetapi mereka kesulitan memahahami tulisannya, karena mereka terbiasa menggunakan huruf latin. Sebagai solusinya para pejabat Belanda diwajibkan belajar berbahasa melayu agar mudah berkomunikasi dengan rakyat. Kemudian untuk memudahkan mereka menulis bahasa melayu, pada tahun 1896 oleh Charles Adrian van Ophuijsen diresmikanlah ejaan van Ophuijsen yang merupakan penulisan huruf latin pertama dari bahasa melayu. 

Proses pengkolonisasian rupanya dijalankan setengah hati. Belanda takut akan kebangkitan bangsa indonesia. Oleh sebab itu pendidikan berbahasa Belanda hanya bisa diberikan kepada kaum bangsawan/priyayi. Sementara masyarakat tingkat bawah dibiarkan buta aksara. Keadaan ini malah memperkuat posisi bahasa melayu sebagai bahasa Nusantara. Kemudian pada 28 Oktober 1928, lahirlah Bahasa Indonesia melalui Sumpah Pemuda. 

Pada saat Jepang menjajah Indonesia tahun 1942 diberlakukan larangan menggunakan Bahasa Belanda dan Inggris. Jepang ingin orang Indonesia menggunakan bahasa Jepang. Akan tetapi, bentuk aksara jepang belum dikenal oleh masyarakat Indonesia pada saat itu. Dampaknya, Jepang sulit untuk menerapkan  bahasanya di tanah air. Ditambah lagi dengan kekalahan Jepang di tahun 1945 maka berakhir sudah usaha untuk mengajarkan bahasa jepang kepada rakyat indonesia. 

Faktor historis tersebut yang membuat bahasa Indonesia memiliki kedudukan tertinggi bagi rakyat Indonesia. Jika kita lihat negara Malaysia dan Filipina. Maka kita akan temukan bahasa Inggris memiliki kedudukan yang hampir sama bahkan mungkin sudah lebih tinggi dari bahasa nasionalnya. ini akibat dari proses kolonialisasi yang dilakukan inggris. Pihak Inggris mengajarkan bahasa Inggris ke seluruh lapisan masyarakat melalui dunia pendidikan. Sehingga terbentuk sikap bahasa yang sangat positif terhadap bahasa Inggris di setiap lapisan masyarakatnya. Dalam hal ini, bahasa Indonesia beruntung karena kegagalan pemerintah belanda untuk membelandakan Indonesia. Andai saja dulu pemerintah Belanda menerapkan metode yang sama seperti Inggris, maka bisa jadi bahasa Indonesia akan tersingkirkan.

                                  *** 

Pada saat ini, perkembangan bahasa tidak lagi dilakukan melalui pendidikan saja. Perkembangan bahasa Indonesia terjadi di tiga lini, yaitu masyarakat, media, dan pendidikan. 

Perkembangan bahasa pada lini masyarakat tidak dapat dikontrol. Karena sangat banyak faktor yang mempengaruhi seperti, sentuhan antar bahasa, norma, budaya, adat istiadat, dan efek grlobalisasi. Bisa dilihat saat ini di daerah daerah tertentu sikap positif masyarakat terhadap bahasa inggris malah lebih tinggi dari pada Bahasa Indonesia. Penggunaannya pun tidak berdasarkan kaidah kaidah yang benar. Memang sejatinya bahasa lisan adalah abriter atau manasuka sekaligus konvensi atau kesepakatan. Apabila masyarakat secara umum telah menyetujui suatu kaidah baru dalam bahasa maka kaidah tersebut menjadi kebenaran. inilah yang menjadi penyebab utama tak terkendalinya bahasa Indonesia di lingkungan masyarakat. 

Perkembangan bahasa Indonesia melalui media berjalan sendiri namun masih terkontrol. Media berperan penting dalam memperkenalkan kosa kata baru. Baik itu serapan dari bahasa asing ataupun bahasa daerah. Ada pula kosa kata baru yang berasal dari bahasa Indonesia kemudian dijadikan padanan kata untuk bahasa asing. kita ambil contoh karta luring dan daring. Awalnya masyarakat mengenal dengan kata online dan offline. Kemudian badan bahasa mengesahkan istilah luring dan daring sebagai pengganti online dan offline. Selanjutnya media-lah yang pertama kali memperkenalkan ke masyarakat. Awalnya terdengar aneh di masyarakat, namun lama kelaman menjadi biasa karena terus digunakan oleh media. media juga menerapkan kaidah bahasanya sendiri. Karena bahasa dalam media itu dituntut untuk ringkas dan tepat sasaran. Maka ada peraturan-peraturan tertentu yang dibuat oleh media untuk memenuhi tujuan tersebut. Kaidah-kaidah ini disebut dengan tata bahasa jurnalistik. 

Perkembangan bahasa di lingkungan pendidikan adalah yang paling terarah. Bahasa pendidikan digunakan pada tulisan resmi, pidato, karya ilmiah dan lain-lain. Penggunaan bahasa pada bidang ini sangat mengacu pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). PUEBI merupakan kaidah kaidah yang disusun oleh ahli ahli bahasa untuk membakukan bahasa Indonesia. Dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar pada ruang publik resmi dan tulisan-tulisan ilmiah, akan tercermin kecendikiawanan seseorang dalam berbahasa. 
 
                                    *** 

Masa depan Bahasa Indonesia ada ditangan anak muda Indonesia. Sebagai penerus bangsa anak muda-lah yang menentukan masa depannya. Metekalah yang akan untuk mempertahankan bahasa Indonesia di kedudukan tertingginya bahkan menginternasionalisasi Bahasa Indonesia. Atau justru, mengedepankan penggunaan bahasa asing agar terlihat pintar dimata masyarakat dan mengambil resiko menggeser kedudukan bahasa indonesia sebagai bahasa nasional. 

Sesungguhnya pemerintah melalui Badan Bahasa telah mengkampanyekan solusi untuk fenomena kebahasaan saat ini. Yaitu dengan menerapkan TriGatra Bangun Bahasa. Poin-poinnya adalah (1) utamakan bahasa Indonesia, (2) lestarikan bahasa daerah, (3) kuasai bahasa asing. Bagaimana nasib bahasa Indonesia kedepannya, tergantug pada hasil dari penerapan poin-poin di atas oleh anak muda Indonesia saat ini.  Akankah masyarakat Indonesia bisa mempertahankan bahasa nasional yang telah diperjuangkan oleh para pemuda terdahulu melalui Sumpah Pemuda? Semua itu menjadi tugas kita bersama.

Comments